Refleksi : Sebelum 2018

Pertama-tama, saya lupa sudah berapa lama kerja di instansi ini, makanya saya beri judul Refleksi Sebelum 2018 saja. Ada senior menulis tentang refleksi 5 tahun versinya, lalu senior lain menulis tentang refleksi 10 tahun versinya. Dua-duanya bercerita tentang akumulasi waktu yang dihabiskan bekerja di instansi yang sama. Yang satu pernah merasa cocok di dunia jurnalistik atau politik, yang satu lagi pernah berencana untuk berkarir di bidang hukum.

Begitu juga saya, berada di instansi yang sama, tapi saya tidak tahu mau menghitungnya dari mana, dari masa magang (On the Job Training), CPNS, atau terhitung mulai dari diangkat PNS, yaitu sesuai kode yang tercantum di nomor induk pegawai. Kedua senior tersebut menulis pada tahun 2014, berarti sekarang perjalanan mereka sudah lebih jauh.

DSCF3088

Phinisi Point, Jalan Tanjung Bunga, Makassar

Haruskah saya berkelana lebih jauh ke dalam ingatan saya ke masa sebelum bergabung di instansi Direktorat Jenderal Pajak? Karena ada 1 episode panjang, berisi cerita penuh dinamika perjalanan selama lebih dari 1 tahun, setelah lulus SMA sampai akhirnya mengantar saya menjadi bagian dari instansi ini melalui program diploma yang dikhususkan. Tapi saya bisa terhanyut, kalau terlalu lama menjelajah masuk ke terlalu dalam di ingatan, lalu tenggelam. Jadi itu untuk tulisan lain saja, judul tersendiri.

Yah, betul kata orang, menulis itu memang perlu, untuk memastikan ingatan-ingatan kita tidak salah.

Kalau begitu, menulislah dengan penuh kejujuran, supaya tidak membohongi pembaca. Kembali ke refleksi. Jadi saya merasa selama fase masuk instansi ini, mulai dari pendidikannya, sampai hari ini, 6 Februari 2018 pukul 17.23, banyak hal yang awalnya saya sesali, lalu kemudian perlahan bisa saya syukuri.

Mulai dari kenapa saya pakai acara merantau ke daerah sekitar Jawa Tengah segala setelah tamat SMA di Padangsidimpuan. Waktu itu bolehnya ke D.I Yogyakarta saja, padahal pinginnya kembali ke Bandung, kota kelahiran saya.

Lalu ketika hampir putus asa di Yogyakarta, dapat kesempatan pendidikan Diploma Spesialisasi Perpajakan, saya lulus ujian saringan masuknya. Ini percobaan kedua, percobaan tahun sebelumnya gagal. Percobaan pertama, saya ujiannya di Medan. Saya membayangkannya kampus STAN yang ada di Bintaro, Jakarta Selatan. Tidak tahunya malah di Balai Diklat Manado. Waktu itu pendidikan di luar Kampus Bintaro memang mulai diterapkan lagi, selain Manado, ada juga yang mendapat pendidikan di Balikpapan, Malang, Cimahi, Medan dan lain-lain. Totalnya 10 kota.

20171227_093341

Coto Makassar yang sedapnya sampai ke ubun-ubun

Setelah selesai pendidikan, saya memilih magang atau istilah lainnya On the Job Training (OJT) di Makassar, selama 6 bulan, saya disambut Coto. Selanjutnya, sesuai dugaan dan desas-desus, memang akan ditempatkan untuk bekerja di sekitar tempat pendidikan, jadilah saya penempatan resmi di Kota Watampone, Kabupaten Bone, 5 jam dari Makassar, dengan jalan yang berkelok-kelok dan sempit. Sangat gelap juga kalau perjalanan dilakukan malam, minim penerangan jalan.

Ini buruk? Tidak. Karena di wilayah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara, ini termasuk daerah yang mudah dijangkau, daerah lain belakangan saya tahu sangat mengguncang jiwa, sebut saja kota X, kota Y dan kota Z. Wah hampir saja keceplosan, bisa bahaya nanti kalau baru tulisan pertama saja sudah diprotes pembaca, apalagi rekan sejawat yang penempatan di kota X, kota Y atau kota Z tadi.

Mengguncang jiwa tadi relatif, karena berat di perjalanan saja, ada yang mesti disambung jalur laut atau udara dari Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Makassar. Anggaplah Makassar sebagai barometer titik awal perjalanan ke kota dan kabupaten lainnya.

Kembali ke Watampone, nama resmi kantor saya waktu itu adalah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Watampone yang pegawainya hampir 80 orang waktu itu.

Lalu, dua tahun kemudian saya ditugaskan ke kantor pajak yang di kabupaten sebelahnya, masih perpanjangan tangan kantor pajak yang di Watampone. Kantor Pajak di Kabupaten Wajo, tepatnya di ibukota Sengkang. Aneh ya, di sini kabupaten punya ibukota, saking luasnya mungkin, karena 14 kecamatan. Bone dan Wajo sama-sama kabupaten yang luar biasa luas. Berikutnya Anda membaca tulisan lain saya, akan menemui nama-nama daerah yang sulit Anda ingat. Tidak usah dipikir dulu, berat.

Bertugas di Kantor Pajak Sengkang ini, penuh dinamika baru, kerepotan karena berbagai macam hal dan terus terang saya sudah sampai di titik jenuh paling maksimal, harapan saya tidak muluk-muluk, karena saya sudah hampir tiga tahun di Kantor Pajak Sengkang yang pegawai tetapnya tidak sampai 10 orang, saya ingin kembali ke kantor pajak yang di Watampone. Di sana yang tadinya saya datang pertama kali pegawainya hampir 80 orang, sekarang sudah lebih dari 100 orang.

Sudah cukup dengan kesepian itu, pak. Tolong kembalikan saya ke kantor yang ramai pegawainya. Hal ini sudah berkali-kali saya sampaikan langsung saat bertemu beberapa atasan.

DSCF1311

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Watampone

Kalau dua senior yang saya singgung di atas tadi, di ujung tulisannya menyampaikan bahwa yang penting kita bisa berbuat baik dan menyenangkan orang tua. Mengikuti keinginan orang tua adalah termasuk ibadah, berpahala. Akhirnya saya menemukan ini persamaan saya dengan mereka berdua, saya juga ada di instansi ini karena dukungan dari orang tua saya, bahkan nenek saya juga sangat mendukung. Kalau dari hal pengalaman ataupun prestasi kerja, dibanding mereka dan dibanding 100 orang pegawai kantor pajak yang di Watampone itu, saya sangatlah kurang.

Tentang berbuat baik. ada kutipan dari Leo Tolstoy, serorang filsuf dan sastrawan.

“Bila kamu berbuat kebaikan, bersyukurlah karena kamu memiliki kesempatan untuk melakukannya.”

Ada juga kata bijak lainnya, ini coba tebak, Leo Tolstoy bukan yang menulisnya,

“Kamu tidak mengajari dirimu sendiri untuk mencari setiap kesempatan melakukan kebaikan, maka setidaknya jangan sampai melepaskan kesempatan itu jika kamu melihatnya.”

Dari awal saya menyesal, makin lama makin jauh dari rumah. Saya tidak bisa merubah banyak hal sekarang. Tapi jadi orang itu tidak boleh sering cengeng. Saya berusaha menumbuhkan motivasi lagi, belajar lagi, untuk ikhlas dan sabar.

Kemudian saya paham, banyak hal yang terjadi pada diri kita itu bukan terbatas seperti dua sisi koin: ujian dan hadiah, bisa jadi itu adalah hukuman dari akumulasi perbuatan kita yang lalu, opini saya begitu. Bayangkan sebuah dadu yang tidak cuma dua sisi.

Baiklah, sudah jadi ini tulisan pertama saya, di platform wordpress. Sengaja saya buat sangat singkat. Seperti kata orang bijak, selalu ada yang pertama dalam segala sesuatu.

Mengenai desain, cara penulisan, dan sebagainya saya akan pelajari seiring berjalannya waktu. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s